Senin, 16 Agustus 2010

Inilah Aku

Lebah madu
Lebah ratu
Inilah aku
Terimalah keadaanku

Pohon duku
Pohon mengkudu
Beginilah aku
Dengan segala kekuranganku

Tanah Bengkulu
Tempo dulu
Pergilah dariku
Bila kau anggap perlu

Hari buruh
Di kota Kedu
Aku tidak butuh
Belas kasihanmu

Tabib penyembuh
Dari Pekanbaru
Satu yang ku butuh
Cinta darimu

Pulau Sumatra
Pulau Maluku
Tak usahlah bertanya
Apa yang terjadi padaku

Biji duku
Tumbuh seminggu
Kau tahu
Hanya kan mengganggu

Bunga merekah
Di bawah tugu
Tak perlulah
Kau berkata rindu

Pohon kamboja
Di atas batu
Bila menunggu saja
Kau tak mau

Warna merah
Buah semangka
Tak perlulah
Kau berkata cinta

Gapura raksasa
Kraton Surakarta
Bila memaafkan saja
Kau tak bisa

Burung kenari
Burung dara
Bukan maksud hati
Hendak memaksa

Masakan padang
Enak rasanya
Namun memang
Begini kenyataannya

Sabtu, 13 Maret 2010

Mei 2010

Tanah Padang
Tanah Bengkulu
Kau datang
Dalam kesendirianku

Naik sampan
Ke Selandia Baru
Kau luluhkan
Segala keangkuhanku

Kota Kediri
Kota Banyuwangi
Hari demi hari
Semakin terasa berarti

Buah durian
Buah jambu biji
Sejak senyumanmu
Mulai hiasi hati ini

Induk bangau
Berenang di kali
Karena engkau
Ku mulai mengerti

Pari manta
Di laut biru
Apa itu cinta
Apa itu cemburu

Jembatan biru
Di kota baru
Ku tak tahu
Apakah kau jodohku

Ratu penyu
Di laut Jawa
Ku tak tahu
Akankah kita bersama

Pabrik sandal
Di kota Delhi
Tapi satu hal
Ku tahu pasti

Bukit Pekanbaru
Pemandangan alam
Telah ada namamu
Di hati yang terdalam

Bunga merekah
Pohon kamboja
Jangan pernah
Kau tanya mengapa

Paket kayu jati
Ke Surakarta
Karena ku tak mengerti
Apa jawabnya

Daun pandan
Akarnya berduri
Tak bisa ku jelaskan
Perasaan ini

Berang-berang
Di ujung hulu
Hati orang
Siapa yang tahu

Sungai Musi
Belah Banjarbaru
Ku mulai mengerti
Arti kata itu

Tempo dulu
Tugu Yogyakarta
Ku tahu
Memang belum saatnya

Hakim ibukota
Mengetok palu
Katakan yang sejujurnya
Kepada dirimu

Air membeku
Lalu membatu
Bukan ku tak mampu
Memang ku tak mau

Sawah hijau
Jauh membentang
Ku tak mau
Kau tahu sekarang

Pemburu kobra
Dari Jakarta
Tentang rasa
Yang tersimpan di dada

Peternakan kuda
Tanah Sumbawa
Memang belum saatnya
Kita tuk bersama

Kandang buaya
Di kota kembang
Karena jalan kita
Masih panjang

Induk buaya
Di pedalaman Papua
Ku hanya
Ingin engkau percaya

Angin berderu
Di atas gundukan batu
Aku menyayangimu
Meski ku hanya membisu

Orang Jawa
Orang Bali
Andai kita bersama
Suatu hari nanti

Kawanan kerbau
Di rerumputan hijau
Kan ku jaga engkau
Tak kan ku sia-siakan engkau

Kulit singa
Dirajut kain
Namun bila
Kenyataan berkata lain

Di Mindanau
Ada pabrik mozaik
Semoga engkau
Kan dapat lebih baik

Lampu redup
Di samping surau
Yang sanggup
Menjaga engkau

Pantai Sulawesi
Angin menerjang lautan
Lebih dari
Yang mampu ku lakukan

Daging remis
Obat ampuh
Hujan gerimis
Di Mei dua ribu sepuluh

Gunung Merapi
Gunung Merbabu
Langit kan jadi saksi
Janjiku kepadamu

Demi Kau Juga

Pohon madu
Di Pulau Maluku
Maafkan aku
Tlah kecewakanmu

Toko baju
Di kota Kedu
Maafkan aku
Tlah berdusta padamu

Panen padi
Di samping gardu
Bukan maksud hati
Beri kegundahan padamu

Ratu penyu
Di Pulau Seribu
Percayalah padaku
Inginkan yang terbaik bagimu

Pari manta
Di Pelabuhan Ratu
Tak mungkin bila
Ku ingin menyakitimu

Jalan buntu
Di pinggir kali
Ada sesuatu
Yang buat ku begini

Mawar ungu
Untuk ibu
Bukannya diriku
Tak mencintaimu

Manggar biru
Di atas batu
Aku mencintaimu
Sangat menyayangimu

Bunga kamboja
Di buat kain
Hanya saja
Kenyataan berkata lain

Merah merona
Warna puspa pesona
Kita tak mungkin bersama
Hanya dengan cinta

Biji Nangka
Biji Simalakama
Kan ku kejar cita-cita
Demi kau juga

Induk berang-berang
Ditendang anak kuda
Karena ku yang sekarang
Bukanlah siapa-siapa

Bulu biri-biri
Jadi kain sutra
Tapi lihatlah nanti
Semua kan berbeda

Langit jingga
Di atas laut biru
Demi kau juga
Kan ku kejar cita-citaku

Awan mempesona
Dari dasar samudra
Demi kau juga
Kan ku kejar dunia

Pohon mangga
Di tepi telaga
Karna kita tak mungkin bersama
Hanya dengan cinta

Petik blewah
Di Suramadu
Maukah
Engkau menungguku

Gigi kawat
Dari baja
Sampai saat
Itu tiba

Selat Malaka
Samping Hindia
Saat di mana
Kita kan bersama

Minggu, 14 Februari 2010

Aku Menyayangimu...

Rasa masam
Buah mengkudu
Setiap malam
Dalam tidurku

Kota Padang
Dekat Bengkulu
Selalu terbayang
Akan senyumanmu

Pantai biru
Di Sulawesi
Tak mampu
Aku pungkiri

Sutra ungu
Di kota baru
Tertulis namamu
Terpatri di hatiku

Makan sambal
Di pinggir kali
Banyak hal
Ingin ku bagi

Naik perahu
Lewat Selat Bali
Tapi kau
Tak pernah peduli

Kepala suku
Bawa peluru
Meski di situ
Ada aku

Orang bisu
Di samping tugu
Tapi kau
Selalu berlalu

Memancing hiu
Di Laut Aru
Kau selalu
Tersenyum padaku

Pabrik baja
Di Samarinda
Seakan semua
Baik-baik saja

Ada ratu
Punya cucu
Tak sadarkah kau
Betapa berarti senyummu

Makan pare
Bareng ibu
Bahkan mentari sore
Tak bisa menandingimu

Orang sipit
Buka pintu
Bila fajar terbit
Di atas rumahmu

Ada kutu
Diinjak mati
Bolehkah ku
Menanti senyummu lagi

Di Amerika
Banyak bandar judi
Andai saja
Kau mengerti

Putri malu
Bentuknya lucu
Aku meyayangimu
Meski kau tak pernah tahu

Pedagang buku
Orangnya lugu
Betapa damai hatiku
Ketika ku lihat senyummu

Naik sampan
Sama cucu
Seribu kerinduan
Tercurah untukmu

Kota Padang
Kota Kedu
Jutaan kata sayang
Tertuju padamu

Putri malu
Di bawah pohon jambu
Belahlah dadaku
Cintaku kan mengalir untukmu

Tabib palsu
Dilempar sapu
Percayalah padaku
Tak kan kecewakan dirimu

Pengrajin bulu
Di Purwodadi
Andai kau tahu
Perasaan ini

Makan duku
Dikupas istri
Tentu diriku
Tak perlu serepot ini

Dari Tanah Abang
Ke gunung Kerinci
Kau memang
Menyebalkan sekali

Pak Dadang
Jualan roti
Kau datang
Tanpa permisi

Di taman
Banyak biri-biri
Kau hancurkan
Segel hati ini

Sang pemandu
Mengetok palu
Dan engkau
Tuliskan namamu

Jalan kenangan
Di simpang empat
Satu kesalahan
Telah kau buat

Bunga lili
Warnanya ungu
Kau buat ku mengerti
Betapa berharganya kau

Jembatan puri
Ada buaya
Mulai detik ini
Semua kan berbeda

Pohon duku
Di Kota Bengkulu
Kan ku buat kau
Jatuh cinta padaku

Pohon duku
Di pulau Maluku
Karena aku
Juga cinta padamu

Sabtu, 23 Januari 2010

Harapan Kosong

Tinta biru
Tinta ungu
Apa salahku
Hingga kau acuhkanku

Buah duku
Buah mengkudu
Apa dosaku
Hingga kau jauhiku

Pohon blewah
Di samping tugu
Tak adakah
Kesempatan bagiku

Ikan pari
Makan berudu
Tuk ulangi
Kisah yang dulu

Ada pemburu
Ada yang diburu
Sadarkah dirimu
Betapa berarti dirimu

Paus biru
Di laut Aru
Tahukah dirimu
Betapa dalam sesalku

Orang bisu
Pergi ke kota
Mengertikah dirimu
Sesak rasa di dada

Dokter saraf
Dokter gigi
Ketika kata maaf
Tiada berarti lagi

Daun lebar
Kembang tahu
Apakah benar
Tiada asa bagiku

Di Delhi
Ada tabib ampuh
Tuk benahi
Sisa hati yang rapuh

Kota Serang
Kota Kedu
Seribu kata sayang
Kau ucap padaku

Keindahan taman
Tempo dulu
Sejuta kerinduan
Kau tatap mataku

Berang-berang
Makan kayu
Tapi sekarang
Di mana semua itu

Preman insaf
Menangis tersedu
Bahkan sebuah maaf
Tak kau beri untuk ku

Ratusan penyu
Di pulau Seribu
Bunuhlah aku
Jika kau mau

Senyum ibu
Mutiara kalbu
Dan maafkanlah aku
Jika kau mampu

Rabu, 06 Januari 2010

Sebuah Kenyataan di Balik Tirai Malam

Pulau Bali
Pulau Sulawesi
Aku tak peduli
Issue itu menjadi-jadi

Kota Siantar
Kota Banyuwangi
Aku tak gentar
Issue itu berubah tragedi

Pohon mangga
Pohon mengkudu
Aku tak kecewa
Bila kau ragukanku

Warna merah
Warna biru
Aku tak marah
Bila kau rendahkanku

Gunung Semeru
Gunung Merbabu
Aku tak malu
Bila kau membenciku

Sarang marmut
Sarang hiu
Aku tak takut
Bila kau jauhiku

Angin lembah
Gunung Merapi
Aku tlah lelah
Dengan semua ini

Induk lebah
Induk merpati
Sampai kapankah
Kan terus begini

Pemain rebab
Pemain kecapi
Satu harap
Dari hati

Kerajinan perunggu
Di Kintamani
Kebenaran itu
Terungkap nanti

Minggu, 03 Januari 2010

Ombak Bali di Akhir Januari

Goreng bakwan
Di samping kali
Tetes hujan
Jatuh ke bumi

Kota Kendari
Kota Jakarta
Membasahi bumi
Yang kering-keronta

Naik perahu
Ke Laut Jawa
Waktu terus berlalu
Tinggalkan sejuta cerita

Tetes embun
Di atas lembah
Kini satu tahun
Berlalu sudah

Gunung Semeru
Gunung Merapi
Ketika itu
Cintaku tlah pergi

Ratu lebah
Keluar sarangnya
Tak pernah
Aku menduga

Kota Kedu
Kota Banyuwangi
Kisah itu
Kan terulang kembali

Laut Seram
Airnya asin
Meski dalam
Cinta yang lain

Kawanan unta
Di gurun Gobi
Bersama surutnya
Deru ombak Bali

Ibu peri
Sihir permaisuri
Tuk kedua kali
Cintaku kandas di Januari